Followers

Thursday 20 October 2011

MUHAMMAD AL FATIH


Bagaimana Muhammad Al-Fateh di bentuk


http://keepfight.wordpress.com/
KELAHIRAN MUHAMMAD AL FATIH
Istana kesultanan Ottoman sedang bergembira. Raja mereka, Sultan Murad, kini memiliki seorang putra yang diberi nama Muhammad. Sama dengan nama nabi kita, Muhammad SAW. Raja bertekad menjadikan putranya yang baru lahir ini menjadi orang besar yang menggantikan kedudukannya. Pada 27 Rajab 835 H (30 Maret 1432 M), Muhammad Al-Fatih melihat dunia untuk pertama kalinya.

Pendidikan yang dijalani Muhammad Al-Fatih tidaklah mudah. Dalam usia yang masih muda, dia sudah menjadi hafizh al-Quran. Ilmu hadits, hukum Islam, matematika dan astronomi yang berkembang saat itu pun harus dikuasainya. Muhammad Al-Fatih juga seorang yang fasih berbahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Gurunya selalu membekali Muhammad Al-Fatih adab dan akhlak islami. Semangat jihad dan menjadi orang besar selalu dikobarkan di dada Muhammad Al-Fatih. Pendidikan ini yang signifikan membentuk kepribadian Muhammad Al-Fatih kelak.
Berbagai peperangan diikuti bersama ayahnya. Dan dari setiap peperangan itu dia mendapatkan banyak pengalaman, semangat dan siasat perang. Jadilah dia seorang ahli perang di usia mudanya. Dalam ketatanegaraan, Muhammad Al-Fatih muda diamanahi memimpin di negara bagian kecil dari kesultanan ayahnya.

Menjadi Sultan Muda

Sultan Murad II wafat (5 Muharram 852 H/7 Februari 1451 M). Saat itu pemuda bernama Muhammad Al-Fatih masih sangat muda. Usianya baru 20 tahun.
Syaikh Aaq Syamsudin menyatakan keyakinannya bahwa Sultan Muhammad Al-Fatih adalah basyirah (kabar gembira) yang dikabarkan Nabi SAW itu dan akan menaklukan Konstantinopel.
Penasihat kerajaan tanpa ragu mempercayainya menjadi sultan. Mereka melihat ketawadhuan, kepintaran, dan semangat Muhammad Al-Fatih muda. Saat itulah, Syaikh Aaq Syamsudin mengatakan kepada Muhammad Al-Fatih, bahwa nabi SAW bersabda:
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]
Lalu, Syaikh Aaq Syamsudin menyatakan keyakinannya bahwa Sultan Muhammad Al-Fatih adalah basyirah (kabar gembira) yang dikabarkan Nabi SAW itu dan akan menaklukan Konstantinopel.
Sejak saat itu, Sultan Muhammad Al-Fatih, menjadi begitu berkeinginan untuk menaklukkan Konstantinopel. Dia tidak bicara dengan seseorang melainkan untuk penaklukkan kota itu. Banyak langkah-langkah ia siapkan. Mulai dari menguasai kota-kota di sekitar Konstantinopel hingga pemanfaatan teknologi mutakhir.
Seorang ilmuwan Dinasti Ustmaniyah ini juga mampu menemukan meriam. Meriam seberat 700 ton dan peluru 1500 kilogram merupakan teknologi baru dan belum pernah dipakai pada peperangan sebelum-sebelumnya. Dengan adanya penemuan meriam ini, benteng kota Konstantinopel setinggi 30 m dan tebal 10 m akan lebih masuk akal untuk dirobohkan.

PENAKLUKAN KONSTANTINOPEL

150.000 pasukan Islam sudah disiapkan mengepung kota Konstantinopel dari segala penjuru. Beliau sendiri yang berkeliling melihat persiapan pasukannya. Tak henti-hentinya Sultan mengobarkan semangat jihad pasukannya. Dia secara khusus pasukannya berpuasa dan sholat malam.
Surat dikirimkan oleh Muhammad Al-Fatih kepada Paleologus (Penguasa Konstantinopel) agar mereka masuk Islam dan menyerahkan Konstantinopel secara damai. Jika tidak, perang tidak akan terhindari lagi. Paleologus kerana bongkak dengan bentengnya yang selama 8 abad tidak dapat di tembusi menjawab tidak akan menyerah dan siap menerima serangan dari pasukan Islam.
Perang tidak terhindari lagi. Dan kesombongan Paleologus ada benarnya. Benteng kota Konstantinopel sukar sekali ditembus. Pengepungan sudah mencapai 30 hari. Tidak ada tanda-tanda benteng akan bisa di tembus. Serangan meriam yang dilancarkan memang mampu membolos benteng. Tapi secepat kilat juga pasukan Paleologus membangun kembali. Parit selebar 7 meter di luar benteng benar-benar menyulitkan pasukan Islam.
Sultan Muhammad Al-Fatih berpikir keras. Pengepungan satu bulan terakhir akan sia-sia jika benteng tak juga mampu ditembus. Saat itu yang dipikirkannya adalah celah di Golden Horn( tanduk rusa ). 22 April 1453 malam, Sultan Muhammad Al-Fatih memerintahkan pemindahan kapal melalui darat melalui Golden Horn. Idea sangat cemerlang dan benar-benar tidak disangka-sangka. 70 kapal mampu masuk ke selat Golden Horn setelah sebelumnya ditarik melalui kawasan  darat( melintasi sebuah bukit ) menghindari rantai di selat itu.
Hal ini sangat mengejutkan  pasukan Paleologus. Dan menjadi titik balik menuju penaklukkan kota Konstantinopel.

MENJELANG KEMENANGAN

Kemenangan itu telah dekat. Basyirah nabi SAW akan segera mampu diwujudkan. Sultan Muhammad Al-Fatih sudah melihat hal itu di matanya. 17 Mei 1453, Sultan mengumpulkan pasukkannya lalu berkhutbah:
“Jika penaklukan kota Konstantinopel berhasil, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits ini, yang berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu di depan matanya dan jangan sampai ada di antara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Jangan mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran. Bermunajat hanya kepada Allah, jauhkan diri dari maksiat, bertahajjud pada malam hari dan berpuasalah pada esok hari.”
Khutbah Sultan Muhammad Al-Fatih benar-benar membakar semangat jihad pasukkannya lebih hebat lagi. Mereka pun berpuasa di siang hari dan tahajud pada malam harinya. Hingga Allah mentakdirkan Konstantinopel jatuh ke tangan pasukan muslimin.

KONSTANTINOPEL , TAKBIR PERTAMAMU

Untuk pertama kalinya, sejak Islam dibawa oleh Rasulullah SAW, Konstantinopel bergemuruh oleh pekikan takbir. Allahu Akbar!
Kota Konstantinopel dibuka oleh Sultan Muhammad Al-Fatih 29 Mei 1453. Seluruh warga Konstantinopel berkumpul di Gereja Hagia Sophia. Menangis. Lesu. Pasrah. Bagaimana nasib mereka setelah ini? Mereka bersimpuh tak berdaya. Apa yang akan dilakukan Sultan Muhammad Al-Fatih? Mereka bahkan tak berani untuk sekedar membayangkan.
Seorang pemuda, usianya baru 23 tahun berhenti di depan gereja Hagia Sophia. Dia lalu turun dari kudanya kemudian sholat dua rakaat. Setelah itu dihampirinya warga kota Konstantinopel yang sedang bersimpuh di gereja itu. Dengan lantang dia berseru:
“Berdiri! Saya adalah Sultan Muhammad dan saya ingin mengatakan kepada kalian, saudara-saudara kalian dan semua orang bahwa hidup dan kebebasan kalian dijamin.”
Sejak saat itu, gereja Hagia Sophia dialihfungsikan menjadi masjid. Dan masih bisa ditemui sampai sekarang. Nama kota diganti menjadi Islambul (kota Islam, kini: Istambul, Turki) dan menjadi ibukota kerajaan Daulah Utsmaniyah.

Akhir Kehidupan Muhammad Al-Fatih

Berita penaklukkan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih sangat menggentarkan Eropah. Mereka harus bersatu melenyapkan Sultan Muhammad Al-Fatih. Tapi persatuan Eropa saat itu sangatlah mahal dan sulit didapatkan. Satu persatu kerajaan-kerajaan kecil Kristian Eropah mampu dikuasai Sultan Muhammad Al-Fatih.
Muhammad Al-Fatih menguasai kota Otarant di Italia Julai 1480. Kota Otarant ini dijadikannya markas untuk menaklukkan Rom. Namun, di saat semua persiapan untuk penaklukan Kota Rom tengah disiapkan, Allah SWT berkehendak lain. 3 Mei 1481, Allah memanggil kekasih dan wali-Nya ini, Muhammad Al-Fatih, kembali kepadaNya.
Demikianlah kehidupan dari sultan Muhammad Al-Fatih. Sumbangannya terhadap Islam dan ilmu pengetahuan sangat besar. Pemergiannya meninggalkan wilayah kerajaan Daulah Utsmaniyah yang sangat luas, termasuk Konstantinopel. Dia juga membangun tiga ratus masjid dan 57 sekolah moden saat itu.

No comments: